1.
Plankton
Plankton
adalah makhluk (tumbuhan atau hewan) yang hidupnya mengapung, mengambang, atau
melayang di dalam air yang kemampuan renangnya (kalaupun ada) sangat terbatas
hingga selalu terbawa hanyut oleh arus. Istilah plankton diperkenalkan oleh
Victor Hensen tahun 1887, yang berasal dari bahasa Yunani, ”planktos”, yang
berarti menhanyut atau mengembara (Nontji, 2008).
Fitoplankton
merupakan salah satu komponen penting dalam suatu ekosistem karena memiliki
kemampuan untuk menyerap langsung energi matahari melalui proses fotosintesa
guna membentuk bahan organik dari bahan-bahan anorganik yang
lazim dikenal sebagai produktivitas primer. Salah satu pigmen
fotosintesa yang paling penting bagi tumbuhan khususnya fitoplankton adalah
klorofil a. Produktivitas primer sangat tergantung dari konsentrasi klorofil
(Nyibaken, 1988).
Zooplankton
merupakan konsumen pertama yang memanfaatkan produksi primer yang dihasilkan
fitoplankton. Peranan zooplankton sebagai mata rantai antara
produsen primer dengan karnivora besar dan kecil dapat mempengaruhi
kompleksitas rantai makanan dalam ekosistem perairan (Handayani dan Mufti,
2005).
Ø Plankton
dikatakan sebagai indikator biologi
Organisme
berukuran kecil yang hidupnya atau pergerakannya tergantung arus atau yang
lebih dikenal dengan nama plankton baik hidupnya sebagai hewan (zooplanktton)
maupun sebagai tumbuh-tumbuhan (phytoplankton) dapat digunakan sebagai
parameter kualitas air akibat adanya pencemaran. Adanya pencemaran
mengakibatkan keragaman spesies plankton ini menjadi menurun dan didominasi
oleh spesies tertentu. Keragaman spesies yang tinggi menandakan bahwa kualitas
suatu perairan baik atau belum tercemar, tetapi sebaliknya bila keragaman spesies
rendah menandakan bahwa perairan tersebut sudah tercemar.
Menurut
Riyanti (2009), bahwa plankton terutama fitoplankton sering dan umum digunakan
sebagai indikator biologis untuk menduga kualitas perairan, karena komunitas
plankton (kecuali Cyanophyceae) umumnya sangat sensitif terhadap perubahan
lingkungan, karena plankton merupakan biota stenotofik (toleransinya terhadap
kondisi fisika – kimia yang sempit) disamping umurnya yang relatif singkat.
Analisis
struktur komunitas biota dengan pemanfaatannya sebagai indikator biologis,
dapat bersifat kuantitatif (indek) dan dapat bersifat kualitatif. Indek
biologis pendekatannya adalah dengan melakukan kalkulasi terhadap komponen -
komponen tertentu dari struktur komunitas biota yang diamati (secara
kuantitatif).
Biota
indikator (indikator biologis) adalah pendekatan analisis dengan mengamati
komposisi jenis – jenis tertentu yang dominan dalam struktur komunitas (secara
kualitatif).
Plankton dan
Bentos merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat dijadikan
indikator perubahan kualitas biologi perairan sungai. Plankton memegang peran
penting dalam mempengaruhi produktifitas primer perairan sungai. Rosenberg
(dalam Ardi, 2002) menyebutkan bahwa beberapa organisme plankton bersifat
toleran dan mempunyai respon yang berbeda terhadap perubahan kualitas perairan.
Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan menggunakan indeks saprobik,
dimana indeks ini digunakan untuk mengetahui tingkat ketergantungan atau
hubungan suatu organisme dengan senyawa yang menjadi sumber nutrisinya.
Sehingga dapat diketahui hubungan kelimpahan plankton dengan tingkat pencemaran
suatu perairan (Dahuri, 1995; Anonim, 2003). Selain plankton organisme bentos
juga dapat digunakan sebagai indikator biologis dalam mempelajari ekosistem
sungai (Canter dan Hills, 1979). Hal ini disebabkan adanya respon yang berbeda
terhadap suatu bahan pencemar yang masuk dalam perairan sungai dan bersifat
immobile (Hynes, 1974; Hilsenshoff, 1977).
2.
Perifiton
Perifiton adalah komunitas organisme yang
hidup di atas atau sekitar substrat yang tenggelam. Substrat tersebut dapat
berupa batu-batuan, kayu, tumbuhan air yang tenggelam, dan kadangkala pada
hewan air (Odum 1971). Menurut Weitzel (1979), perifiton terdiri dari
mikroflora yang tumbuh pada semua substrat tenggelam. Pada umumnya perifiton di
perairan mengalir terdiri dari diatom, (Bacillariophyceae), alga biru
berfilamen (Myxophyceae), alga hijau berfilamen (Chlorophyceae), bakteri atau
jamur berfilamen, protozoa, dan rotifera (tidak banyak pada perairan tidak
tercemar), serta beberapa jenis serangga (Welch 1952). Berdasarkan tipe
substrat tempat menempelnya, perifiton dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Epilithic, perifiton yang menempel pada batu.
b. Epipelic, perifiton yang menempel pada permukaan sedimen.
c. Epiphytic, perifiton yang menempel atau hidup pada permukaan daun atau
batang tumbuhan.
d. Epizoic, perifiton yang menempel pada permukaan tubuh hewan.
e. Epidendritic, perifiton yang menempel pada kayu.
f.
Epipsamic, perifiton
yang menempel pada permukaan pasir.
Perkembangan
perifiton dapat dianggap sebagai proses akumulasi, yaitu proses peningkatan
biomassa dengan bertambahnya waktu. Akumulasi merupakan hasil kolonisasi dan
komposisi perifiton. Hal ini terkait erat dengan kemampuan perifiton dan alat
penempelnya. Keberadaan substrat sangat menentukan perkembangan perifiton
menuju kemantapan komunitasnya. Kemampuan perifiton menempel pada substrat
menentukan eksistensinya terhadap pencucian oleh arus atau gelombang yang dapat
memusnahkannya (Ruttner 1974).
Perifiton
dapat menempel pada tipe substrat batuan, lumpur, hingga benda hidup. Substrat
benda hidup sering bersifat sementara karena adanya proses pertumbuhan dan
kematian, sehingga keberadaan perifiton juga ikut dipengaruhi oleh
keberadaannya. Pada substrat benda mati, keberadaan perifiton akan lebih mantap
(permanen), meskipun pembentukan komunitas terjadi secara lambat namun lebih
mantap, tidak mengalami perubahan, rusak, atau mati (Ruttner 1974).
Hasil
penelitian Bishop (1973) menunjukkan bahwa komposisi alga di sungai pada
substrat batu (epilitik) dan substrat tanaman air (epifitik) terdiri dari
Cyanophyta, Rhodophyta, Cryptophyta, Bacillariophyta, Chrysophyta, 8
Euglenophyta, dan Chlorophyta. Alga bentik yang sering ditemukan dalam jumlah
besar adalah Synedra, Nitzschia, Navicula, Diatoma, dan Surirella (Hynes 1972).
Pada perairan berarus kuat, alga bentik yang mendominasi dikarakteristikkan
dengan diatom kelompok pennales; dan dengan menurunnya arus, keanekaragaman
akan meningkat tidak hanya diatom melainkan juga Chlorophyta dan Myxophyta
(Whitton 1975 in Whitton 1975).
Diatom dari
kelompok pennales cenderung mendominasi pada perairan berarus dan sebagai alga
bentik. Hal ini terkait dengan bentuk sel (frustul) yang bilateral simetris dan
sistem aliran air yang melewati sitoplasma sehingga mampu bergerak meluncur
melawan arus. Selain itu, pada frustule yang berupa sobekansobekan sel (raphe)
terdapat sitoplasma yang di dalamnya mengandung mucopolysaccharides yang mampu
mengeluarkan helaian cairan perekat sehingga mampu menempel di substrat dan
memungkinkan untuk membantu bergerak (Basmi 1999; Sze 1993).
Faktor yang
mempengaruhi perkembangan perifiton di perairan antara lain adalah kecerahan,
kekeruhan, tipe substrat, kedalaman, pergerakan air, arus, pH, alkalinitas,
kesadahan, dan nutrien. Pada daerah yang terlindungi dari cahaya, perkembangan
perifiton menurun. Meningkatnya kekeruhan akibat lumpur dan plankton dapat
mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke dalam perairan sehingga menghalangi
perifiton di dasar yang memanfaatkan cahaya tersebut untuk berkembang (Weitzel
1979).
3.
Hubungan
Antara Plankton dan Perifiton
-
Sebagai indikator pencemaran air
Sifat atau mutu perairan dapat diketahui melalui pendugaan
terhadap hasil pengukuran/pengamatan parameter fisika, kimia, dan biologi.
Penentuan kualitas perairan secara biologi dapat dianalisis secara kuantitatif
maupun secara kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan melihat jumlah
kelimpahan jenis organisme yang hidup di lingkungan perairan tersebut dan
dihubungkan dengan keanekaragaman tiap jenisnya. Analisis secara kualitatif
adalah dengan melihat jenis-jenis organisme yang mampu beradaptasi pada kondisi
lingkungan tertentu (Soewignyo et al. 1986).
Eksistensi suatu organisme atau sekumpulan biota pada habitatnya
didukung oleh kondisi lingkungan yang serasi. Pada kondisi lingkungan
(karakteristik fisika dan kimia) yang stabil, organisme hewani dan nabati dapat
berkembang lebih baik. Adanya variabel lingkungan yang berubah akan
mempengaruhi komunitas organisme secara keseluruhan. Perubahan komunitas ini
antara lain terjadi pada komposisi jenis, spesies, bentuk morfologi individu,
anatomis, fisiologis, dan jumlah individu. Jika suatu lingkungan mengalami
perubahan, maka organisme yang ada di dalamnya juga mengalami perubahan dalam
komunitasnya. Organisme yang mampu mendiami suatu lokasi yang mengalami
perubahan lingkungan akan menjadi bioindikator lingkungannya, yaitu organisme
yang selalu ada dan tidak menghilang. Perubahan yang mendasar pada struktur
komunitas akibat perubahan lingkungan tersebut adalah terjadinya perubahan
keanekaragaman jenis pada komunitas yang bersangkutan (Basmi 1999).
Perairan sebagai suatu ekosistem tentunya memiliki karakteristik
yang berbeda-beda sesuai jenis perairan dan organisme yang ada di dalamnya.
Tipe organisme yang ada di dalamnya dipengaruhi oleh jenis perairan serta oleh
masukan dari lingkungannya. Menurut Curtis dan Curd (1971) in Mason (1981),
beberapa alga yang hidup pada komunitas perairan tercemar limbah organik adalah
Stigeoclon tenue, Navicula spp., Fragillaria spp., dan Synedra spp.. Mac
Kenthum (1969) in Nemerow (1991) mengemukakan bahwa alga yang berhubungan
dengan air bersih adalah Cladophora, Ulothrix, dan Navicula, sedangkan alga
yang berhubungan dengan perairan yang tercemar adalah Chlorella, Chlamydomonas,
Oscillatoria, Phormidium, dan Stigeoclonium. Brinley (1952) in Whitton (1975)
juga mengemukakan bahwa alga hijau (Chlorophyceae) biasa berkembang pada
perairan pertengahan antara perairan tidak tercemar dengan perairan sangat
tercemar. Beberapa keuntungan peninjauan secara biologis terhadap mutu
lingkungan, antara lain (Soewignyo et al. 1986) adalah:
1) Analisis
biologis dapat memberikan informasi yang relevan mengenai kondisi kualitas air
secara sederhana dan cepat.
2) Pada keadaan
lingkungan yang kurang baik atau tidak menguntungkan, beberapa biota perairan
masih dapat bertahan dalam bentuk struktur komunitas.
3) Analisis
biologi dapat memberikan informasi yang tidak dapat diberikan metode lain.
Misalnya mengenai pengaruh bahan toksik terhadap status biologi organisme atau
tentang kemampuan air sendiri dalam melakukan proses penjernihan secara
biologis.
4) Analisis
biologi tidak memberikan informasi yang tepat akan zat pencemaran kimia, tetapi
dapat memberikan gambaran atau petunjuk akan kejadian tersebut secara khusus
dengan melihat hubungan atau respon.
Beberapa metode biologi dapat digunakan dalam menentukan nilai
indeks biologi. Metode biologi tersebut adalah sistem saprobik (indeks
saprobik, koefisien saprobik), sistem diversitas (indeks keanekaragaman),
keseragaman, dominansi, kandungan klorofil, produktivitas primer, dan lain-lain
(Wilhm 1968 in Whitton 1975). Plankton dan perifiton sebagai produsen primer,
berperan sebagai dasar rantai makanan. Selain itu, plankton juga berperan
sebagai penyedia oksigen di dalam ekosistem perairan yang sangat dibutuhkan
untuk mendukung kehidupan organisme lain pada tingkat trofik yang lebih tinggi.